Swadaya Anggota, KTNA Lubuklinggau Realisasikan Program Kerja

 

Lubuklinggau,Bllg– Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Lubuklinggau, sukses merealisasikan salah satu program strategisnya, yaitu Pelatihan Budidaya Ikan Baung, Budidaya Magot BSF, dan Penggunaan Probiotik BIOS 44 Deco.

Kegiatan yang dilaksanakan Kamis (9/12) itu difokuskan di dua titik yakni di ruang pertemuan KSM Lingkungan Bersih (ber)teknologi (Libertek), RT.02, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, dan di Sekretariat Alchansa Farm, Jl. Batu Pepe, RT. 04, Kelurahan Petanang Ilir, Kecamatan Lubuklinggau Utara I.

Ketua KTNA Lubuklinggau, Hermanto, melalui sambutannya menerangkan jika pelatihan yang diikuti 20 orang dari lintas wilayah dan kalangan itu dimaksudkan sebagai langkah strategis KTNA untuk memodernisasi petani agar lebih akrab dengan pertanian berteknologi.

“Kami harapkan agar petani milenial yang lebih modern semakin banyak berkembang dan bertumbuh khususnya di Wilayah Silampari. Selain itu, kita juga akan memfollow up program Desa Emas yang akan kita usahakan bawa ke Bumi Silampari sesuai program kemitraan KTNA Pusat untuk merangkul kemitraan petani dari luar Jawa. Dengan pelatihan ini, Insya Allah Silampari akan siap,” ujar pria yang juga aktif di kepengurusan KTNA Pusat bidang Kemitraan itu.

Kegiatan pelatihan tersebut juga mendatangkan narasumber yang expert di bidangnya. Seperti Sutejo Hamdan, Dosen dan peneliti di Universitas Musi Rawas (UNMURA) yang menyuguhkan materi Budidaya Magot BSF, Mahadi Suroso, Owner Alchansa Farm yang membagi ilmu Budidaya Ikan Baung, dan Sertu Adi Santoso dari KODIM 0406 Lubuklinggau yang melakukan pemaparan tentang Probiotik Bios 44 Deco.

Sutejo Hamdan, dalam materi yang dibawakannya menerangkan bahwa budidaya magot BSF adalah salah satu langkah untuk bisa mengurangi sampah sekaligus memiliki nilai ekonomis untuk pembudidaya.

“Magot BSF ini adalah bisnis zaman now. Selain dapat meningkatkan perekonomian keluarga, usaha ini juga akan berfokus pada pengurangan sampah organik. Karena magot BSF makanannya adalah sampah-sampah organik maupun kotoran hewan. Dalam 1 kg magot BSF akan menghabiskan 5 kg sampah organik. Bayangkan apabila produksi magot BSF sudah cukup besar di Lubuklinggau, maka mobil DLH (Dinas Lingkungan Hidup) tidak akan lagi lewat terlalu sering di depan rumah kita,” ujar pria yang juga aktif di KTNA Kota Lubuklinggau itu.

Menurut Sutejo, tujuan akhir dari pengembangan Magot BSF ini akan menghabiskan sampah dengan prinsip “Bersih Negeriku, Sejahtera Bangsaku”.

“Berdasarkan data dari DLH, di Lubuklinggau ada sekitar 150 ton sampah organik per harinya diproduksi di Lubuklinggau. Itu adalah masalah yang berbahaya untuk lingkungan hidup. Maka apabila ada banyak petani magot BSF di Lubuklinggau dengan total produksi mencapai 30 ton per hari, masalah sampah organik yang menguasai 60% total sampah di Lubuklinggau akan teratasi. Selain itu, magotnya akan bernilai ekonomis, dan kasgot-nya (bekas magot) akan menjadi pupuk organik. Jadi negeri bisa bersih beriringan dengan masyarakat yang sejahtera,” ujar Sutejo sembari terus memaparkan materinya secara detail.

Magot BSF sendiri merupakan larva dari lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) yang memiliki siklus kehidupan cukup singkat namun dengan kadar protein yang sangat tinggi sehingga sangat bagus jika diaplikasikan sebagai alternatif pakan ternak.

Materi yang tak kalah menarik juga disampaikan oleh Mahadi Suroso, Owner Alchansa Farm. Dengan budidaya Baung Batu menggunakan konsep Close System, ia menegaskan selain melestarikan ikan endemik sungai di Lubuklinggau, juga memiliki peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

“Keberadaan Baung yang semakin langka membuat baung menjadi ikan yang eksklusif dan menjadi komoditi ekonomis penting di Sumatera. Ikan ini menjadi ikan lokal dengan harga fenomenal. Maka dari itu, budidaya ikan ini sangat layak dijalani karena tidak semua orang telaten, dan itu kesempatan untuk kita. Prosesnya mudah namun memang butuh ketekunan dan perhatian yang ekstra. Misalnya saja baung ini sangat butuh oksigen, sehingga aerasi sangat dibutuhkan dalam proses budidaya sistem tertutup dan itu harus kita pastikan ketersediannya sepanjang hari,” ujar pria yang menyandang gelar Sarjana Sains Terapan Perikanan (S.St.Pi) itu.

Mahadi juga menjelaskan bahwa secara ekonomis usaha budidaya baung ini akan menghasilkan keuntungan yang cukup besar bagi pembudidaya. Namun memang modal awalnya juga lumayan besar.

Untuk 10 unit kolam terpal model D5, pembudidaya minimal investĀ  Rp100 jutaan lebih dahulu untuk melengkapi semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Biaya operasional sampai masa pemanenan ditaksir lebih kurang Rp 89 Juta. Sehingga total modal awal sekitar Rp 189 Juta.

“Apabila kita asumsikan rasio kematian ikan sampai panen adalah 20% maka dalam 10 kolam isi total 8.000 bibit, dengan rata-rata berat 500 gram maka kita bisa memproduksi lebih kurang 3,6 ton. Harga di pasaran saat ini masih sangat stabil dengan Rp 40 ribu per Kilogramnya. Maka dalam satu kali panen estimasi yang kita dapatkan adalah Rp 144 Juta,” Terang Mahadi.

Mahadi melanjutkan apabila dibandingkan dengan biaya invest dan operasional maka pembudidaya akan balik modal dalam waktu 7,6 bulan.

“Kita estimasikan akan balik modal di 7,6 bulan. Karena dalam satu tahun bisa 2x panen dengan total perkiraan raihan 288 juta per satu tahun,” tambahnya.

Untuk pasar sendiri Mahadi bersedia membeli dari pembudidaya. Sehingga pembudidaya tidak perlu takut lagi akan pasar dengan mengikuti program kemitraan di Alchansa Farm tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Sementara Sertu Adi Santoso, membawa kabar gembira dalam materinya berupa pengenalan produk yang luar biasa kegunaannya. Bios 44 Deco.

“Kami di TNI mengembangkan Bios 44 Deco dengan konsep ekologi dan kearifan lokal. Bisa juga dikatakan Bioteknologi. Setelah melalui uji coba yang cukup panjang alhamdulillah produk ini terbukti sangat bermanfaat untuk segala bidang pertanian,” ujar pria yang sehari-harinya bertugas sebagai Bintara Administrasi di Kodim 0406 Lubuklinggau itu.

Probiotik yang dikembangkan oleh Mayjen Kunto Arief Wibowo itu mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian, menekan biaya pupuk, maupun efektif untuk menstabilkan PH tanah.

“Bios 44 Deco ini bisa diaplikasikan di mana saja, pertanian, peternakan, perikanan, maupun untuk optimalisasi restrukturasi tanah eks tambang. Mampu mengurai tanah tandus menjadi subur dan meningkatkan produktivitas,” jelas Adi.

Bios 44 Deco sendiri bisa dikulturisasi dengan menghubungi Kodim 0406 Lubuklinggau atau melalui KTNA Lubuklinggau.

Kegiatan pelatihan itu sendiri berlangsung baik dengan interaktif peserta dan praktek di lapangan. Peserta diberikan kesempatan untuk melihat proses budidaya Magot di KSM Libertek yang diketuai oleh Eriyanto, dan budidaya Baung Batu di Alchansa Farm.

Uniknya kegiatan ini dibiayai secara swadaya oleh seluruh anggota KTNA Lubuklinggau dengan diinisiasi oleh Senior pertanian Bumi Silampari yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) Nasional, Sugeng Hartadi dan diamini oleh seluruh anggota KTNA Lubuklinggau.

Hal ini juga sebagai bukti bahwa KTNA Khususnya kepengurusan di Lubuklinggau mampu mandiri tanpa pemerintah kota merasa dirusuhi.