Perjuangan Yuni, Rawat Ayah dan Adik Kembarnya

 

LUBUKLINGGAU, BL– Di sebuah rumah kecil yang bangunannya dominan terbuat dari bambu dan berlokasi di Jalan H Yakin, RT 07, Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, tinggalah seorang gadis belia, Yuni Ria Puspita Sari (14) bersama ayahnya, Masuri (43) dan kedua adik kembarnya, Yuda dan Yudi.

 

Yuni, begitu gadis itu biasa disapa, sudah sejak satu tahun tiga bulan ini merawat sang ayah yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa, lantaran sekujur tubuh ayahnya tersiram cuka para, atau air keras. Selain itu, Yuni juga harus mengurusi kedua adik kembarnya yang masih berusia lima tahun itu.

 

Sedangkan menurut penuturan ayah Yuni, sang ibu juga sudah meninggalkan mereka semenjak musibah cuka para itu menimpanya. “Istri saya pamit ke Jakarta tanpa membawa anak-anak. Bahkan, perkara perceraian pun sudah saya urus, kalau-kalau dia (Istrinya, red) mau menikah lagi,” tutur Masuri.

 

Meski begitu, Masuri mengaku enggan menyalahkan keputusan sang istri meninggalkan mereka begitu saja. “Ya, mau gimana lagi, memang salah saya tidak bisa bekerja lagi, wajar kalau dia mau pergi. Makanya saya persilahkan pergi,” ungkapnya.

 

Hingga kini, akibat luka di sekujur tubuh yang dialaminya, Masuri hanya bisa banyak berbaring lemah di rumah yang dipinjami kakak kandungnya itu. Untuk berbicara pun, butuh usaha yang keras dari Masuri. Tak pernah sedikitpun ia menyangka, bahwa dirinya harus menjadi beban Yuni putri sulungnya untuk merawatnya sembari mengurusi keperluan kedua adik kembarnya.

 

Dari dalam rumah kecil yang hanya terdapat ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan satu kamar tidur serta tidak terdapat kamar mandi itu, Masuri menceritakan bahwa sebelumnya, ia dan keluarga tinggal di wilayah Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

 

“Tapi, saya mengalami kecelakaan. Botol cuka para yang saya bawa pecah dan mengenai seluruh tubuh saya hingga mengalami luka bakar hebat,” katanya.

 

“Alhamdulillah, kakak saya iba melihat keadaan kami dan meminjamkan rumah kecil ini. Yang penting, anak-anak saya ada tempat untuk bernaung dulu. Mau ngontrak rumah belum ada biaya. Tapi untuk anak-anak, saya yakin ada Allah SWT yang bantu mereka,” imbuhnya.

 

Sementara, untuk kebutuhan makan sehari-hari, Masuri mengungkapkan, mereka masih mengandalkan uluran tangan keluarganya yang prihatin dengan kondisi Masuri dan ketiga anaknya itu. “Kadang ada yang ngirimi kami beras atau makanan. Ya kami makan seadanya,” ujar Masuri.

 

Sementara, Yuni (14) juga mengaku jika dirinya memutuskan untuk berhenti sekolah, karena kondisi sang ayah. Yuni lebih memilih merawat ayah dan adik-adiknya di rumah. Saat pagi tiba, Yuni bergegas memandikan adik kembarnya, lalu membersihkan tubuh ayahnya.

 

Setelah itu, jika ada makanan Yuni juga yang menyiapkan makanan untuk ayah dan adiknya, serta memberikan obat untuk sang ayah. “Kalau saya sekolah, siapa yang ngurus ayah dan adik-adik. Jadi, setelah tamat SD, nggak nerusin sekolah lagi,” ungkap Yuni yang seharusnya sudah duduk di bangku kelas VIII tingkat SMP.

 

Diceritakan Yuni, diawal peristiwa yang menimpa ayahnya, ia lah yang berjuang menemani ayahnya yang harus menjalani operasi bedah plastik cangkok kulit selama kurang lebih satu bulan di Rumah Sakit (RS) Moh Husein Palembang. Sebab, akibat paparan cuka para itu kulit leher sang ayah sempat menempel di bagian dada.

 

“Untuk biaya berobat ayah, terbantu dengan KIS BPJS Kesehatan. Sedangkan untuk ongkos dan biaya selama di rumah sakit, keluarga ayah yang patungan, untuk uang saku kami,” jelasnya.

 

Meski demikian, Yuni mengaku sangat ingin melanjutkan pendidikannya, bila sang ayah benar-benar sembuh nantinya. Yuni sangat berharap ada orang yang mau membantu mereka, agar ayahnya sembuh dan bisa kembali bekerja untuk menafkahi mereka.

 

“Ingin sekolah lagi, tapi kalau ayah sudah sembuh. Mudah-mudahan ayah bisa dibantu untuk berobat hingga benar-benar sembuh dan bisa bekerja lagi. Sebab, semestinya tahun depan (2022, red), adik kembar saya sudah mulai sekolah,” harap Yuni. (*)