Kita Sedang Hidup di Era Framing, Data Bicara Kalah dengan Opini Menyesatkan, Berteriak!

Lubuklinggau–Media sosial, yang awalnya diciptakan sebagai ruang terbuka untuk bertukar informasi dan memperkuat kebebasan berekspresi, kini tengah berada di titik kritis. Di balik gemerlap konten dan derasnya arus informasi, perlahan tapi pasti, nilai kebenaran mulai tergeser. Data dan fakta yang seharusnya menjadi pondasi dalam membentuk opini publik justru kalah oleh narasi menyesatkan yang dibalut sensasi dan emosi.

Dalam pusaran algoritma yang lebih memprioritaskan keterlibatan (engagement) daripada integritas, banyak kreator konten memilih jalur yang mudah: membuat konten kontroversial, memelintir narasi, bahkan menyebar hoaks demi viralitas. Demi dolar, demi views, demi popularitas etika pun dikorbankan.

Era di Mana Fakta Tak Lagi Menarik Realitas menyedihkan ini kian tampak jelas saat konten-konten yang informatif dan berbasis data justru tenggelam, sementara opini sepihak yang memecah belah malah menjadi trending. Lebih ironis lagi, banyak warganet yang ikut menyebarkan informasi menyesatkan tanpa sempat memverifikasi kebenarannya. Mereka tidak lagi mencari kebenaran, tapi hanya ingin menjadi bagian dari keramaian.

 

Hal ini tentu mengancam kualitas demokrasi digital kita. Ketika opini yang dibentuk tidak bersandar pada data, maka kesimpulan yang dihasilkan pun cenderung manipulatif dan berbahaya. Masyarakat perlahan menjadi korban framing, dan kebenaran pun menjadi bias.

 

Monetisasi yang Mengorbankan Moral, Tak bisa dimungkiri, monetisasi menjadi faktor dominan dalam fenomena ini. Banyak konten kreator yang sadar betul bahwa konten viral = cuan. Maka dibuatlah skenario, framing, bahkan drama palsu agar penonton teraduk emosinya. Isinya mungkin kosong, tapi emosinya dijamin penuh. Inilah yang membuat opini tanpa dasar bisa mengalahkan data yang jelas dan valid.

 

Lebih parah lagi, mereka yang mencoba menyuarakan data justru seringkali dianggap “tidak seru”, “kurang menarik”, atau bahkan “tidak relate”. Dunia digital pun makin bising dengan kebohongan yang dibungkus rapi dan dipercantik dengan efek visual serta narasi dramatis.

 

Saatnya Berbenah, Kita sebagai pengguna media sosial, khususnya generasi muda, harus mulai berani bersikap kritis. Jangan mudah percaya, apalagi langsung menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Jadilah pengguna aktif yang punya kesadaran digital, bukan sekadar penonton pasif yang mudah terbakar oleh narasi provokatif.

 

Membangun media sosial yang sehat bukan tanggung jawab satu pihak saja. Kreator konten, pengguna, bahkan platform digital, semuanya harus ikut andil dalam menjaga agar media sosial tidak berubah menjadi medan perang opini tak berdasar.

 

Karena jika dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin kita semua akan hidup dalam ilusi, di mana kebohongan terasa seperti kebenaran, dan data hanya dianggap gangguan yang membosankan.(*)

Penulis : Rah Zainal, Mahasiswa Hukum Universitas Bina Insan

 

error: Maaf Konten Di Proteksi