ILUSI POLITISI ROBINHOOD

Oleh : Bayu Pratama Sembiring

Sebuah anasir dari Banteng Perah.

____________________________

TAHUN politik di Indonesia memang masih nanti di Tahun 2024, namun bukan Indonesia namanya apabila ‘woro-woro’ hajatannya sudah riuh terdengar saban hari. Mulai dari tipe-tipe konvensional seperti penggunaan baliho, iklan di media massa, status heroisme di media sosial, dengan tagline-tagline hipokrit yang entah mengapa masih selalu laku dan menjadi primadona sampai hari ini. “Pasti Amanah”, “Siap Mengemban Amanah Rakyat”, “Berjuang Bersama Rakyat”, dan yang paling aneh “Memberi Bukti Bukan Janji” adalah hal yang jelas-jelas ucapan hipokrisi (jika kita tidak mau menggunakan kata munafik) yang kita semua tahu itu, namun tetap permisif.

Sampai dengan tipe yang lebih intelektualis dan terkesan dominan, seperti menggelar seminar, bedah buku, diskusi publik, menulis artikel, sampai show off power dengan melakukan sidak-sidak permasalahan sosial di tengah masyarakat. Semua itu akan kita temui sangat sering dalam perjalanan menuju tahun politik 2024. Tak jarang, bentuk ‘woro-woro’ demi eksistensi politik suatu kelompok ini mampu membelah opini publik, sehingga terjadi sub perang pendapat di tengah-tengah masyarakat yang fanatik. Jadi tambah seru!

Dari semua bentuk keriuhan itu, ada satu yang cukup menarik terkait pola kampanye politisi, khususnya di daerah seperti Lubuklinggau dan sekitarnya. Adalah fenomena Politisi Robinhood yang acap kali narasi sampulnya menghiasi media sosial. Bentuk narasi ini biasa menyasar pada pola kampanye dengan mengusung tema bantuan sosial.

Kita semua mengetahui, Robinhood adalah penjahat yang dianggap pahlawan oleh rakyat karena ia mencuri dari para konglomerat dan oligarki yang kemudian ia bagikan hasil curiannya kepada rakyat yang miskin dan membutuhkan. Fenomena ini sepertinya muncul di ruang-ruang politik. Bedanya, Robinhood tidak memiliki niat apapun kecuali rakyat dapat makan, kalau politisi? Tentu ada tujuan lain, simpati, dengan tujuan akhir elektabilitas yang memenangkan partai atau sosok yang mengincar jabatan.

Saat ini, khususnya di daerah, ada politisi-politisi yang merangkap sebagai pemain proyek, yang sebagian keuntungan dari proyek ini akan digunakan untuk menghibur rakyat yang sedang memiliki masalah sosial. Ia datangi dengan kamera sana-sini, dengan narasi peduli dan dari uang pribadi, si politisi berharap simpati. Setelah usai si politisi akan sibuk mengunggah kegiatannya di media sosial, berharap semakin terkenal dan dengan itu akan dipilih menjadi anak dalam ramalan. Ia merasa bak Robinhood, ia ambil uang dari Pemerintah, lalu dibagi pada rakyat yang menderita.

Apakah itu salah? Tentu tidak, itu adalah hak warga negara. Itu juga sebagai bentuk kreatifitas mengelola keuangan dan ongkos politik. Salah satu teknik yang saya tempatkan ke dalam golongan cara-cara yang cenderung intelektualis. Ya, bolehlah kita ikuti narasinya, menolong adalah yang utama, dikenal dan dipilih adalah bonus saja.

Tapi yang jadi masalah, bagaimana jika si politisi yang merangkap sebagai pemborong proyek ini melakukan korupsi dalam setiap proyeknya? Bahkan seperti baru-baru ini, di Lubuklinggau ada proyek yang bahkan sudah rusak padahal belum menyentuh umur pemeliharaan. DPRD yang melakukan sidak sampai mengeluarkan rekomendasi untuk segera dibenahi. Orang-orang ini akan mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan dari proyek, yang sialnya, dibiayai oleh uang pajak rakyat. Bukankah akhirnya dia menjadi pencuri uang rakyat alih-alih menjadi pencuri harta konglomerat? Politisi Robinhood? Tidak, lebih tepatnya Ilusi Politisi Robinhood. Framing yang dibangun akan menunjukkan bahwa dia adalah si Robinhood, padahal faktanya, dia yang mencuri dari rakyat, dia adalah si konglomerat.

Kalau boleh mengutip syair Juvenal, rakyat sepertinya sedang disuguhi panem et circenses. Satu bentuk frasa syair persuasi yang memiliki arti kenyamanan yang dangkal, kenyamanan yang palsu, kenyamanan yang disandarkan pada kemunafikan para penguasa.

Panem et circenses memiliki arti Roti dan Sirkus. Rakyat akan dilenakan dari kenyataan yang sesungguhnya, dilenakan dari pokok masalah dengan disuguhi makanan dan hiburan sehingga perhatian mereka teralihkan. Alih-alih mengenal dia sebagai pencuri uang rakyat, justru kita kenal sebagai politisi yang berjuang dan berbuat. Kita semua berdo’a kepada Dia yang mengatur segalanya, agar fenomena itu hanya fatamorgana penulis semata, bukan suatu bentuk kepastian opini, apalagi realita. Semoga.