LUBUKLINGGAU — Upaya Pemerintah Kota Lubuklinggau dalam memperluas layanan Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus berjalan. Meski pemerintah menargetkan pembangunan 25 dapur MBG, hingga akhir September 2025 baru 10 dapur yang resmi beroperasi dan melayani sekitar 33 ribu anak di berbagai sekolah.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau, Erwin Armeidi, menjelaskan bahwa pembukaan dapur dilakukan bertahap karena setiap dapur harus memenuhi standar operasional yang cukup ketat.
“Dari total target 25 dapur, baru 10 dapur yang siap melayani anak-anak. Tiga di antaranya bahkan sudah berjalan sejak Februari lalu,” ungkap Erwin, Jumat (26/9/2025).
Penemuan Ulat pada Buah Direspons Cepat
Beberapa waktu lalu, masyarakat dihebohkan dengan temuan ulat pada buah yang disajikan dalam ompreng MBG di salah satu SD negeri. Erwin memastikan kasus tersebut telah ditindaklanjuti.
“Selama ini pelaksanaan berjalan baik. Hanya kasus ulat di buah itu yang sempat viral. Tapi begitu dilaporkan, langsung diganti dan diperiksa penyebabnya,” jelasnya.
Pengawasan SOP Diperketat
Menurut Erwin, Dinkes terus mengadakan pendampingan kepada seluruh dapur, terutama terkait prosedur kebersihan dan penanganan makanan. Setiap petugas baik pencuci ompreng, pengolah makanan, maupun penyaji wajib mengikuti SOP yang sudah ditetapkan.
“Semua proses harus mengikuti prosedur. Misalnya kalau buah harus dilap, maka semua harus dilap. Tidak boleh ada bahan yang kualitasnya diragukan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa makanan biasanya diproses lebih pagi dan baru dibagikan beberapa jam kemudian. Karena itu kualitas bahan sangat menentukan keamanan makanan ketika diterima anak-anak.
Meski baru mencapai sekitar 40 persen dari target, Pemkot memastikan proses penambahan dapur tetap berjalan. Setiap dapur baru hanya boleh beroperasi setelah dinilai layak dan sudah menerapkan SOP dengan benar.
“Kami terus memonitor, memperbaiki yang kurang, dan memastikan setiap dapur siap sebelum melayani anak-anak,” kata Erwin.
Program MBG sendiri menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam meningkatkan gizi anak sekolah sekaligus mencegah munculnya kasus makanan tidak layak konsumsi.
(*)




